Menyoal Praktik Kebijakan Reforma Agraria di Kawasan Hutan

  • M Nazir Salim Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional https://orcid.org/0000-0002-4745-1656
  • Westi Utami Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional
  • Diah Retno Wulan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
  • Sukmo Pinuji Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional
  • Mujiati Mujiati Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional
  • Harvini Wulansari Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional
  • Bunga Mareta Dwijananti Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Riau

Abstract

Abstract: The Agrarian Reform (RA) policy, especially land redistribution from the release forest areas, is considered slow. This was caused by several problems in the field, namely: leadership, institutions, regulations, and RA subjects-objects. Effective strategies to implement RA at central and regional levels has not been found, particularly on leadership and coordination between sectors at site level. This study is presented in the form of a policy forum by closely reviewing findings and solutions to RA practices in forest areas. Analysis, reduction, and interpretation of qualitative data were carried out to draw conclusions on real practices of RA at site level in the last three years. At macro level, the authors' findings confirm that the practice of RA experiences a fairly systematic problem due to the weakness of key actors controlling the implementation of RA, the ineffectiveness of the established institutions, and different interpretations of regulations impacted on the differences in understanding RA objects in the field. These findings emphasized that, resoundingly, strategic program of RA has not yet become a common agenda to be implemented in the framework of creating justice and welfare for the entitled people.

Keyword: Agrarian reform policy, PPTKH, GTRA, TORA, release of forest area

 

 

Abstrak: Kebijakan Reforma Agraria (RA) khususnya redistribusi tanah dari objek pelepasan kawasan hutan dianggap lambat. Pelambatan tersebut disebabkan karena beberapa problem di lapangan, yakni: kepemimpinan, kelembagaan, regulasi, dan objek-subjek RA. Sampai saat ini, belum ditemukan cara yang efektif untuk menjalankan tata kelola RA di level pusat dan daerah, khususnya kepemimpinan dan koordinasi antarsektor di level tapak. Kajian ini dimaksudkan untuk memetakan problem dan menawarkan solusi dengan basis observasi dan studi di lapangan selama tiga tahun terakhir (2018-2020). Studi ini disajikan dalam bentuk policy forum dengan me-review secara padat temuan-temuan dan solusi atas praktik RA di kawasan hutan. Analisis, reduksi, dan tafsir atas data-data kualitatif dilakukan untuk menarik kesimpulan, bagaimana sesungguhnya praktik RA di level tapak dalam tiga tahun terakhir. Secara makro, temuan penulis mengkonfirmasi bahwa praktik RA mengalami problem yang cukup sistematis akibat lemahnya aktor-aktor kunci pemegang kendali RA, tidak efektifnya kelembagaan yang dibentuk, dan perbedaan tafsir atas regulasi yang berdampak pada perbedaan pemahaman atas objek RA di lapangan. Berbekal temuan tersebut, secara meyakinkan program strategis RA belum menjadi agenda bersama untuk dijalankan dalam kerangka menciptakan keadilan dan kesejahteraan untuk masyarakat yang berhak.

Kata Kunci: Kebijakan RA, PPTKH, GTRA, TORA, Pelepasan Kawasan Hutan

Downloads

Download data is not yet available.

References

  • Adamopolous, T., & Restuccia, D. (2020). "Land reform and productivity: a quantitative analysis with micro data." American Economic Journal: Macroeconomics, 12 (3): 1-39.. DOI: 10.1257/mac.20150222
  • Akinola, A.O. (2018). Land reform in South Africa: an appraisal, Africa Review, 10 (1), 1-16, DOI: 10.1080/09744053.2017.1399560
  • Borras JR, S.M., & Franco, J.C. (2010). Contemporary discourses and contestations around pro-poor land policies and land governance. Journal of Agrarian Change, 10(1). https://doi.org/10.1111/j.1471-0366.2009.00243.x
  • Dempo, A.A.P., Salim, M.N., Farid, A.H. (2021). Evaluasi pelaksanaan redistribusi tanah eks kawasan hutan di Kabupaten Musi Rawas", Jurnal Tunas Agraria, 4 (1), DOI: https://doi.org/10.31292/jta.v4i1.131, https://jurnaltunasagraria.stpn.ac.id/JTA/article/view/131
  • Dhiaulhaq, A. & McCarthy, J.F. (2020). Indigenous rights and agrarian justice framings in forest land conflicts in Indonesia, The Asia Pacific Journal of Anthropology, 21 (1), 34-54, DOI: https://doi.org/10.1080/14442213.2019.1670243
  • Ekawati, F.N.F., Salim, M.N., Utami, W. (2019). Pemetaan partisipatif guna pengusulan tanah obyek reforma agraria (TORA) dalam kawasan hutan di Kabupaten Ogan Komering Hulu, Jurnal Tunas Agraria 2 (3), 24-48. DOI: https://doi.org/10.31292/jta.v2i3.37, http://jurnaltunasagraria.stpn.ac.id/JTA/article/view/37
  • Fraser, A. (2008). Geography and land reform, Geographical Review, 98 (3), 309-321, DOI: 10.1111/j.1931-0846.2008.tb00303.x
  • Gilbert, D.E., & Afrizal. (2019). The land exclusion dilemma and Sumatra’s agrarian reactionaries, The Journal of Peasant Studies, 46 (4), 681-701, DOI: 10.1080/03066150.2017.1404990
  • Jakaza, E. (2019). Land reform costly”: zimbabwe land reform negation discourse in the print media, Language Matters, 50 (1), 102-114, DOI: 10.1080/10228195.2018.1524922
  • KLHK. (2018a). Evolusi kawasan hutan, tora dan perhutanan sosial”, paparan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada diskusi media FMB9 (Forum Merdeka Barat 9), Jakarta, 3 April.
  • KLHK. (2018b). Surat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, No. S.384/MenLHK/Setjen/Pla.2/11/2018 tentang Laporan Progress Reforma Agraria dan Sertifikasi Tanah dari Alokasi Kehutanan.
  • Kurniawati, F., Kistiyah, S., Luthfi, A.N. (2019). Faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pelaksanaan redistribusi tanah bekas kawasan hutan, Jurnal Tunas Agraria, 2 (3), DOI: https://doi.org/10.31292/jta.v2i3.47; http://jurnaltunasagraria.stpn.ac.id/JTA/article/view/47
  • Lanzona, Jr., L.A. (2019). Agrarian reform and democracy: lessons from the Philippine Experience", Millennial Asia, 10 (3), 272–298. DOI: 10.1177/0976399619879866.
  • Li, T.M. (2021). Commons, co-ops, and corporations: assembling Indonesia’s twenty-first century land reform, The Journal of Peasant Studies, DOI: 10.1080/03066150.2021.1890718
  • Lucas, A., & Warren, C. (2007). The state, the people, and their mediators: the struggle over agrarian law reform in post-new Order Indonesia. Indonesia, No. 76 (Oct., 2003), pp. 87-126. http://cip.cornell.edu/DPubS?service=Repository&version=1.0&verb=Disseminate&view=body&content-type=pdf_1&handle=seap.indo/1106934993#
  • Luthfi, A.N. (2018). Reforma kelembagaan dalam kebijakan reforma agraria era Joko Widodo-Jusuf Kalla’, Bhumi, Jurnal Agraria dan Pertanahan, 4 (2), 140-163. DOI: https://doi.org/10.31292/jb.v4i2.276
  • Platteau, J.P. (1996). The evolutionary theory of land rights as applied to Sub-Saharan Africa: A critical assessment. Development and Change. 27(1), 29–86. Doi:10.1111/j.1467-7660.1996.tb00578.x
  • Rachman, N.F. (2017). Land Reform dan gerakan agraria Indonesia, Insist Press, Yogyakarta.
  • Ramutsindela, M., & Hartnack, A. (2019). Centring ordinary people: grounded approaches to land reform in Southern Africa, Anthropology Southern Africa, 42 (3), 195-201, DOI: 10.1080/23323256.2019.1679028
  • Salim, M.N. (2017). Mereka yang dikalahkan: perampasan tanah dan resistensi masyarakat Pulau Padang, STPN Press, Yogyakarta.
  • Salim, M.N., Pinuji, S. Utami, W. (2018). Reforma agraria di kawasan hutan Sungaitohor, Riau: pengelolaan Perhutanan Sosial di wilayah perbatasan’, BHUMI: Jurnal Agraria dan Pertanahan 4 (2), 164-189. DOI: https://doi.org/10.31292/jb.v4i2.277. http://jurnalbhumi.stpn.ac.id/JB/article/view/277
  • Salim, M.N., & Utami, W. (2019). Reforma agraria, menyelesaikan mandat konstitusi, STPN Press, Yogyakarta.
  • Salim, M.N., Utami, W., dan Wulan, D.R. (2019). Penyelesaian penguasaan tanah dalam kawasan hutan melalui skema reforma agraria, dalam Luthfi, A.N. & Utami, W. Himpunan policy brief: Permasalahan dan Kebijakan Agraria, Pertanahan, dan Tata Ruang di Indonesia, Yogyakarta, STPN Press.
  • Salim, M.N., Wulan, D.R.,Pinuji, S., (2021). Reconciling community land and state forest claims in Indonesia: A case study of the Land Tenure Settlement Reconciliation Program in South Sumatra, Forest and Society, 5 (1), https://doi.org/10.24259/fs.v5i1.10552
  • Sirait, M.T. (2017). Inklusi, eksklusi dan perubahan agraria: redistribusi tanah kawasan hutan di Indonesia, Yogyakarta: STPN Press.
  • Siscawati, M., Banjade M.R., Liswanti, N., Herawati, T., Mwangi, E., Wulandari, C., Tjoa, M., and Silaya, T. (2017), Overview of forest tenure reforms in Indonesia, Working paper 223, Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor, Indonesia. DOI: https://doi.org/10.17528/cifor/006402
  • Steinebach, S. (2017). Farmers and pawns: The role of migrants in agrarian conflicts and rural resistance in Sumatra, Indonesia, The Asia Pacific Journal of Anthropology, 18 (3), 228-245, DOI: http://dx.doi.org/10.1080/14442213.2017.1304443
  • Tenrisau, A. (2021). Laporan Dirjen Penataan Agraria Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, "Reforma agraria untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat", Disampaikan dalam Rangka Rapat Kerja Teknis Reforma Agraria Tahun 2021, Jakarta, 25 Maret 2021.
  • Tjandra, S. (2020). Executive brief 3, pembangunan GTRA pusat & GTRA daerah. https://toolsfortransformation.net/indonesia/wp-content/uploads/2017/05/ExBrief_Pembangunan-GTRA-Pusat-dan-Daerah.pdf
  • Utami, W., Salim, M.N., Mujiati. (2019). Reforma agraria: tanah obyek reforma agraria (TORA) Sumatera Selatan dan dinamika pelaksanaanya, Yogyakarta: PPPM-STPN.
  • Webgis KLHK. http://webgis.menlhk.go.id:8080/kemenhut/index.php/id/peta/tora
  • Peraturan
  • Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah Dalam Kawasan Hutan.
  • Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria.
  • Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Tim Inventarisasi dan Verifikasi Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan.
  • Peraturan Menteri Lingkungn Hidup dan Kehutanan Nomor 17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2018 tentang Tata Cara Pelepasan Kawasan Hutan dan Perubahan Batas Kawasan Hutan untuk Sumber Tanah Objek Reforma Agraria.
  • Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.62/Menhut-II/2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/MENHUT-II/2012 tentang Pengukuhan Kawasan Hutan.
  • Peraturan Menteri KLHK P. 42/2019 tentang Tata Cara Pelepasan Kawasan Hutan dan Perubahan Batas Kawasan Hutan untuk Sumber Tanah Obyek Reforma Agraria.
  • Keputusan menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. SK. 5050/MENLHK-PKTL/KUH/PLA.2/9/2020 tentang Peta Indikatif Alokasi Kawasan Hutan untuk Penyediaan SUmber Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA Revisi V), http://appgis.menlhk.go.id/appgis/Peta_TORA_Rev_V/SK%20TORA%20REVISI%20V.pdf
  • CROSSMARK
    Published
    2021-12-12
    DIMENSIONS
    How to Cite
    Salim, M. N., Utami, W. ., Wulan, D. R. ., Pinuji, S. ., Mujiati, M., Wulansari, H. ., & Dwijananti, B. M. . (2021). Menyoal Praktik Kebijakan Reforma Agraria di Kawasan Hutan. BHUMI: Jurnal Agraria Dan Pertanahan, 7(2), 149–162. https://doi.org/10.31292/bhumi.v7i2.476

    Most read articles by the same author(s)

    1 2 3 > >>