Pemanfaatan Data Sensus Pertanian untuk Mendukung Program Land Reform: Kasus Kabupaten Blitar dan Luwu Utara

  • Mohamad Shohibuddin Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB University https://orcid.org/0000-0002-5427-1004
  • Anisa Dwi Utami Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), IPB University
  • Dina Nurdinawati Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB University

Abstract

Abstract: The success of land reform depends, among others, on complete and accurate data on land tenure. Such data are still lacking since land registration has not been completed yet, while the completed ones are difficult to access. Actually, agriculture census data contain some information concerning farm landholding, although the last concept refers to “effective landholding” rather than “formal landholding” (legal ownership) as frequently used in land reform program. Using literary study, this article aims to analyse the 2013 Agricultural Census with special focus on Blitar in East Java and Luwu Utara in South Sulawesi to represents two types of ecosystems in Geertz’s conception, namely “Inner Indonesia” and “Outer Indonesia” respectively. The analysis resulted in detailed descriptions on the distribution of farm households, farmland use, and inequality of landholding which can be traced until the village level. For preparing land reform, it is important to combine this information with existed data on land ownership and to use it as a basis for further field-based inventories on farmland holding, ownership, use and utilization. This article concludes that the benefit of agricultural census data should be optimized. Some policy recommendations are also provided, emphasizing the urgency for more contextual way to implement land reform.

Keywords: Agricultural Census, Land Reform, Farm Household, Inequality of Landholding, Blitar, Luwu Utara

 

Intisari: Keberhasilan program land reform bergantung antara lain pada data penguasaan tanah yang lengkap dan akurat. Data semacam ini masih belum memadai karena pendaftaran tanah di seluruh Indonesia belum tuntas, sementara data yang sudah tersedia sulit diakses. Sebenarnya, Sensus Pertanian mengandung banyak informasi mengenai penguasaan lahan pertanian, sekalipun konsep “penguasaan” ini mengacu pada “penguasaan efektif” dan bukan “penguasaan formal” (alias kepemilikan legal) yang sering dimanfaatkan dalam program land reform. Menggunakan studi pustaka, artikel ini bertujuan untuk menganalisis data mentah Sensus Pertanian 2013 dengan fokus di Kabupaten Blitar, Jawa Timur dan Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dua kabupaten ini dipilih secara purposive untuk mewakili dua tipe ekosistem yang berbeda dalam konsepsi Geertz, yakni berturut-turut “Indonesia Dalam” dan “Indonesia Luar”. Hasil analisis menyajikan deskripsi detail mengenai sebaran rumah tangga petani, penggunaan lahan pertanian, dan ketimpangan penguasaan lahan yang bisa ditelusuri hingga ke level desa. Untuk perencanaan land reform, sangat penting untuk memadukan informasi ini dengan data kepemilikan tanah yang ada dan menjadikannya sebagai pijakan bagi inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah di lapangan. Artikel ini menyimpulkan bahwa manfaat data Sensus Pertanian perlu lebih dioptimalkan. Beberapa rekomendasi kebijakan juga disajikan yang menekankan urgensi pelaksanaan land reform secara lebih kontekstual.

Kata Kunci: Sensus Pertanian, Land Reform, Rumah Tangga Petani, Ketimpangan Penguasaan Lahan, Blitar, Luwu Utara

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biographies

Mohamad Shohibuddin, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB University

Sinta

Google Scholar

Curirculum Vitae

Penulis adalah staf pengajar pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Selain itu, penulis adalah ketua program Dinamika Ekologi, Kependudukan dan Agraria (DEKA) pada Pusat Studi Agraria, IPB. Penulis juga aktif sebagai peneliti di Sajogyo Institute sekaligus menjadi anggota pengawas pada Yayasan yang menaunginya.

Anisa Dwi Utami, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), IPB University

Staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB University

Dina Nurdinawati, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB University

Staf pengajar pada Fakultas Ekologi Manusia, IPB University

References

  • Araghi, F. A. (1995). Global Depeasantization, 1945-1990. The Sociological Quarterly, 36(2), 337–368. https://www.jstor.org/stable/4120791.
  • Borras, S. M., & Franco, J. C. (2012). Global Land Grabbing and Trajectories of Agrarian Change: A Preliminary Analysis. Journal of Agrarian Change, 12(1), 34–59. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/j.1471-0366.2011.00339.x.
  • BPS. (2020). Penghitungan dan Analisis Kemiskinan Makro Indonesia Tahun 2020. Badan Pusat Statistik.
  • BPS. (2013). Laporan Hasil Sensus Pertanian 2013 (Pencacahan Lengkap). Badan Pusat Statistik.
  • BPS. (2014). Angka Nasional Hasil Pencacahan Lengkap. Badan Pusat Statistik.
  • BPS. (2014). Potensi Pertanian Indonesia: Analisis Hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian 2013. Badan Pusat Statistik.
  • BPS Provinsi Jawa Timur. (2013). Laporan Hasil Sensus Pertanian 2013 (Pencacahan Lengkap Provinsi Jawa Timur). Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur.
  • BPS Provinsi Sulawesi Selatan. (2013). Laporan Hasil Sensus Pertanian 2013 (Pencacahan Lengkap Provinsi Sulawesi Selatan). Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan.
  • BPS Kabupaten Blitar. (2014). Kabupaten Blitar dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2012). Kabupaten Luwu Utara dalam Angka 2012. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kabupaten Luwu Utara dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Sabbang dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Baebunta dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Malangke dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Malangke Barat dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Sukamaju dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Bone-Bone dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Masamba dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Mappedeceng dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Rampi dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Limbong dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Seko dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • BPS Kabupaten Luwu Utara. (2014). Kecamatan Tana Lili dalam Angka 2014. Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara.
  • Geertz, C. (1963). Agricultural Involution: The Processes of Ecological Change in Indonesia. University of California Press.
  • Lubis, M. R. (2017). Keterbukaan Informasi Publik dalam Pendaftaran Tanah di Indonesia. Tesis Master pada Universitas Sumatera Utara.
  • Marryanti, S., & Purbawa, Y. (2018). Optimalisasi Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap. BHUMI: Jurnal Agraria Dan Pertanahan, 4(2), 190–207. https://doi.org/10.31292/jb.v4i2.278.
  • McMichael, P. (2012). Depeasantization. Dalam G. Ritzer (Ed.), The Wiley-Blackwell Encyclopedia of Globalization. John Wiley & Sons, Ltd. https://doi.org/10.1002/9780470670590.wbeog140.
  • Sajogyo, & Tambunan, M. (Eds.). (1990). Industrialisasi Pedesaan: Dilengkapi dengan Memorandum Bersama tentang Industrialisasi Pedesaan. Pusat Studi Pembangunan IPB dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia.
  • Shohibuddin, M. (2019). Wakaf Agraria: Signifikansi Wakaf bagi Agenda Reforma Agraria. Baitul Hikmah, Magnum Pustaka Utama dan Sajogyo Institute.
  • Shohibuddin, M. (2020). Ketimpangan Agraria di Indonesia: Pendekatan Studi, Kondisi Terkini dan Kebijakan Penanganan. IPB Press.
  • Soetarto, E., & Agusta, I. (2012). Arah Baru Penurunan Ketahanan Pangan: ‘Deruralization’, 'Depeasantization’, ‘Deagrarianization’. Dalam A. Fariyanti, A. Rifin, S. Jahroh, & B. Krisnamurthi (Eds.), Pangan Rakyat: Soal Hidup atau Mati 60 Tahun Kemudian (pp. 449–460). Departemen Agribisnis IPB & PERHEPI.
  • Soetarto, E., & Shohibuddin, M. (2004). Reforma Agraria Sebagai Basis Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Jurnal Pembaruan Desa Dan Agraria, 1(1), 9–38.
  • Wiradi, G. (2009a). Reforma Agraria: Perjalanan yang Belum Berakhir. Disunting oleh N. Fauzi, edisi kedua. Sajogyo Institute, Akatiga, Konsorsium Pembaruan Agraria.
  • Wiradi, G. (2009b). Seluk Beluk Masalah Agraria, Reforma Agraria dan Penelitian Agraria. Disunting oleh M. Shohibuddin. STPN Press, Sajogyo Institute.
  • Zed, M. (2008). Metode Penelitian Kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.
  • Data Resmi Pemerintah
  • Data Sensus Pertanian 2013.
  • CROSSMARK
    Published
    2021-06-14
    DIMENSIONS